Dari Kepri untuk Senayan: Desak Teguran hingga Pemeriksaan Etik Untuk Endipat Wijaya
FAKTALAPANGAN.COM- Gelombang respons dari masyarakat Kepulauan Riau terus menguat setelah munculnya pernyataan Anggota DPR RI Endipat Wijaya yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai adab dan etika masyarakat Melayu. Suara tersebut tidak hanya datang dari tokoh-tokoh masyarakat, tetapi juga dari forum Anak Provinsi Kepri yang diwakili oleh Aryandi, SE, yang secara terbuka menyampaikan sikap lembaga terhadap pernyataan tersebut.Jum'at 12/12/2025
Di tengah dinamika sosial yang berkembang cepat, penyampaian pernyataan sikap ini menjadi sorotan karena dianggap mewakili kegelisahan publik Kepri yang sangat menjunjung tinggi sopan santun, kelembutan tutur, dan penghormatan terhadap sesama. Bagi masyarakat Melayu, kata-kata memiliki nilai; ucapan yang terlepas tanpa kehati-hatian dapat melukai marwah, dan marwah adalah kehormatan yang harus dijaga oleh setiap insan, terlebih seorang wakil rakyat.
Nilai Adab Melayu yang Terluka
Dalam keterangan yang disampaikan, Aryandi menilai bahwa ucapan Endipat Wijaya dianggap tidak mencerminkan nilai-nilai adab orang Melayu di Kepulauan Riau. Penegasan ini disampaikan bukan untuk memperlebar polemik, namun sebagai bentuk keprihatinan terhadap standar moral dan etika yang seharusnya dijaga oleh pejabat publik.
Menurutnya, masyarakat Melayu Kepri tumbuh dengan nilai kearifan yang kuat: menghormati sesama, menimbang kata sebelum diucapkan, dan menjaga kehormatan pihak lain. Ketika nilai-nilai tersebut dirasa tercederai oleh seorang wakil rakyat, panggilan moral untuk menyampaikan sikap menjadi sebuah kewajiban.
Desakan Pemeriksaan Etik oleh MKD DPR RI
Dalam sikap resmi pertama, Anak Kepri mendesak Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI untuk melakukan pemeriksaan dugaan pelanggaran etik terhadap Endipat Wijaya. Mereka memandang, pernyataan tersebut tidak hanya berpotensi menyakiti perasaan masyarakat, tetapi juga dapat dipahami sebagai tindakan yang tidak mencerminkan kehormatan lembaga legislatif.
Desakan ini menunjukkan bahwa masyarakat Kepri mengharapkan DPR RI menjaga marwah institusinya dengan memeriksa setiap tindakan atau ucapan yang berpotensi merendahkan nilai kemanusiaan dan etika berpolitik.
Ajakan Menolak Kehadiran dan Agenda Reses
Sikap kedua yang disampaikan adalah ajakan kepada masyarakat Kepulauan Riau untuk menolak kehadiran dan agenda reses Endipat Wijaya. Ajakan ini bukan dimaksudkan sebagai sikap permusuhan, tetapi sebagai bentuk masukan keras yang lahir dari rasa kecewa sekaligus kebutuhan untuk menunjukkan bahwa masyarakat berhak mendapatkan wakil rakyat yang menjaga tutur kata dan kehormatan publik.
Menurut Anak Kepri, masyarakat memiliki hak penuh untuk memilih sikap ketika merasa kehormatannya tidak dihargai. Penolakan menjadi simbol bahwa rakyat ingin wakil yang hadir dengan perilaku yang melambangkan nilai luhur daerah.
Dorongan Permohonan Maaf Terbuka dari Fraksi Gerindra
Sikap berikutnya menyentuh ranah internal partai politik. Anak Kepri mendesak Fraksi Gerindra DPR RI agar menginstruksikan Endipat Wijaya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Kepulauan Riau.
Bagi mereka, permohonan maaf bukan hanya bentuk pengakuan kesalahan, tetapi juga jalan penting untuk memulihkan kepercayaan publik. Dengan permohonan maaf, luka sosial yang muncul dapat perlahan pulih dan hubungan masyarakat dengan wakilnya dapat kembali harmonis.
Usulan Teguran Keras oleh DPP Partai Gerindra
Di tingkat pusat, Anak Kepri meminta DPP Partai Gerindra memberikan teguran keras kepada Endipat Wijaya. Menurut mereka, sikap dan ucapan yang disampaikan telah menimbulkan keresahan masyarakat dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan serta marwah orang Melayu.
Permintaan ini menunjukkan bahwa masyarakat Kepri tidak hanya memandang persoalan sebagai ucapan personal, tetapi sebagai tindakan yang menuntut tanggung jawab moral—baik secara individu maupun institusional.
Suara dari Tanah Melayu: Menjaga Martabat di Tengah Kegelisahan
Pernyataan sikap ini mencerminkan suara yang mengalir dari ruang-ruang publik Kepri. Di warung kopi, di jalanan, di antara tokoh masyarakat, hingga di ruang-ruang diskusi anak muda, persoalan ini telah menjadi bahan pembicaraan hangat.
Namun, di balik itu semua, inti dari pernyataan Anak Kepri adalah pesan moral: bahwa wakil rakyat hendaknya menjadi contoh dalam etika, perlakuan, dan ucapan.
Masyarakat Kepri, yang dikenal dengan kearifan dan keluhuran budayanya, berharap setiap pejabat publik yang datang ke daerah mereka hadir dengan rasa hormat, ketulusan, dan kepekaan.
Penutup: Jalan Menuju Pemulihan Kepercayaan
Dalam lanskap politik modern, kesalahan ucapan dapat dengan cepat menjadi isu nasional. Namun bagi masyarakat Kepri, persoalan ini lebih dari sekadar dinamika politik; ini menyangkut kehormatan, harkat, dan budaya.
Sikap Anak Kepri yang disampaikan Aryandi, SE menjadi penanda bahwa suara rakyat masih hidup dan tetap tegas dalam menjaga marwah daerah.
Mereka berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara bijaksana, dengan langkah-langkah etis yang menghormati publik dan memperbaiki hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat yang diwakilinya.
Tim
Posting Komentar untuk "Dari Kepri untuk Senayan: Desak Teguran hingga Pemeriksaan Etik Untuk Endipat Wijaya"