Selamat Hari Ibu: Yang Bergelar Emak Membesarkan Anaknya Dengan Sendiri
FAKTALAPANGAN.COM- Opini:
Peringatan Hari Ibu setiap 22 Desember lahir dari sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia. Sejak Kongres Perempuan Indonesia pertama tahun 1928, Hari Ibu dimaksudkan sebagai pengingat tentang peran, keteguhan, dan kesadaran perempuan dalam membangun bangsa.Selasa 23/12/2025
Namun bagi sebagian anak, Hari Ibu bukan sekadar perayaan melainkan hari yang membuka kembali luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Di balik ucapan selamat dan bunga yang tampak indah, tersembunyi kisah-kisah sunyi tentang anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah.
Tanpa pelukan,Tanpa teladan.
Tanpa satu kata sederhana yang sangat mereka tunggu: “Ayah bangga padamu.”
Di banyak rumah, ayah hanya tinggal nama.
Walaupun iya Masih ada.
Anak-anak tumbuh bersama pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban
mengapa ayah memilih pergi,
dan mengapa cinta seolah tak pernah sempat singgah untuk mereka.
Dalam kekosongan itulah, seorang ibu berdiri sendirian.
Ibu menjadi segalanya pencari nafkah, pelindung, penguat, sekaligus tempat pulang.
Ia menggendong kita dengan tubuh yang sering gemetar oleh lelah, namun hati yang dipaksa tegar demi anak-anaknya.
Di pagi hari, ia menyeka air mata sebelum matahari terbit, agar anak-anaknya berangkat sekolah dengan senyum palsu yang dipelajari sejak dini.
Di malam hari, saat anak - anaknya tertidur, ia menangis dalam diam memeluk sepi, berdoa pada Tuhan tentang luka yang tak pernah sempat ia ceritakan.
Fenomena ini bukan kisah baru.
Puluhan tahun silam, sejak masa pasca-kemerdekaan hingga krisis ekonomi dan sosial yang datang silih berganti, perempuan-perempuan Indonesia telah memikul peran ganda dalam keluarga.
Sejarah mencatat, ketika keadaan dan bahkan orang terdekat tak lagi tinggal, para ibu memilih bertahan membesarkan anak-anak dalam kekurangan, dalam sunyi, tanpa panggung dan tanpa pujian.
Anak-anak itu tumbuh terlalu cepat.
Mereka belajar memahami sedih sebelum sempat menikmati masa kecil dan
belajar menahan rindu.
Belajar menelan cemburu saat melihat teman-temannya digendong ayah mereka.
Di sudut-sudut sunyi, mereka bertanya pada diri sendiri apakah kami tidak cukup berharga untuk dicintai, hingga ayah memilih tak tinggal?
Namun di tengah luka itu, ibu tak pernah pergi.
Menanggapi makna Hari Ibu sebagai refleksi sejarah dan kemanusiaan, Fauzan C.ILJ, Ketua DPD Asosiasi Keluarga Pers Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, menegaskan bahwa Hari Ibu adalah tentang pengorbanan yang sering tak terlihat.
“Sejak puluhan tahun silam, ibu-ibu di Indonesia telah menjadi pilar keluarga dalam kesunyian. Banyak anak tumbuh tanpa figur ayah, tetapi tetap hidup dan berdiri karena kekuatan seorang ibu.
Mereka bukan hanya membesarkan anak, tetapi menahan luka agar anak-anaknya tidak ikut patah,” ujarnya.
Menurut Fauzan,C.ILJ,. Sejarah kisah ibu yang mengorbankan dirinya sendiri demi masa depan anak-anaknya.
“Mereka bekerja tanpa sorotan, menangis tanpa saksi, dan berjuang tanpa panggung. Ibu-ibu ini adalah pahlawan sunyi yang jasanya sering baru disadari ketika anak-anaknya telah dewasa, saat luka itu sudah terlanjur mengeras,” tambahnya.
Dengan segala keterbatasan, ibu mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya
bukan tentang janji, melainkan tentang bertahan.
Bukan tentang kehadiran yang sesaat,
melainkan kesetiaan yang tetap tinggal meski hati berkali-kali remuk.
Kini, ketika anak-anak itu tumbuh dewasa, luka itu belum sepenuhnya sembuh.
Akan selalu ada ruang kosong yang tak dapat diisi oleh siapa pun.
Namun dari ruang kosong itulah tumbuh keteguhan karena mereka tahu,
mereka dibesarkan oleh seorang perempuan
yang memilih berjuang bukan pergi.
Hari Ibu pun menjadi pengingat lintas zaman:
bahwa di balik anak-anak yang tampak kuat,
sering kali ada masa kecil yang penuh kehilangan.
Dan di balik ketegaran itu, selalu ada sosok ibu yang menangis dalam sunyi
agar anak-anaknya tetap bisa tersenyum.
Selamat Hari Ibu
Bagi ibu-ibu yang membesarkan anaknya sendirian, engkau bukan hanya orang tua
engkau adalah alasan mengapa anak-anakmu masih percaya pada cinta,
meski pernah dikhianati oleh kepergian
I Love You Emak: Sungguh tak dapat ku balas namun aku anakmu ini berjanji atas namamu bila Suatu saat berdiri di puncak kehidupan akan buat mu bahagia engkau lah ratu tak bermahkota namun di telapak kakimu saja ada syurga tutup Fauzan,C,ILJ,. Dengan mata berkaca-kaca dan bibirnya tetap tersenyum .
Ini lah sosok lelaki yang tangguh , Pemberani , Petarung dan Pejuang yang di masa lalu hanya di didik oleh seorang ibu ,neneknya dan pamannya yang kini sudah berpulang ke Rahmatullah semoga surgalah tempat mereka dan kini iya hanya memiliki satu penyemangat hidup yang masih ada yaitu ibunya .
“Ibu adalah ayah yang tak bersuara.
Tak dapat kasih ayah, bukan berarti tak ada arah, selama ibu masih berdiri.
Anak hidup oleh kuatnya kasih ibu.”
Tim
Posting Komentar untuk "Selamat Hari Ibu: Yang Bergelar Emak Membesarkan Anaknya Dengan Sendiri "